Aku datang menjumpainya, yang sedang terbaring di tempat tidur kayu. Tubuh kecil terlihat semakin ringkih, raut wajah pucat pasi, sorot mata menyisakan sedikit kilat.

Apa yang terjadi padamu?

Kumainkan percakapan bersamanya. Sekian lama kau pergi berlayar, datang kembali kini dengan keadaan lemah. Apa guna ini semua, bila sesaat saja tubuhmu derita. Hmm,… aku tak ingin menceramah. Aku senang kau tlah kembali. Cukup sudah terpisah lama, sepanjang langkah yang kau tempuh. Kangen….

Dengan gerak cepat, ia bangun. Mendekap erat tubuhku, seorang anak yang terpisah berjalan sendirian. Arsiran tangannya membelai tiap helai rambutku, bibir tipisnya mengecup kening. Hampir saja aku terisak, betapa hangat kasih cintanya.

Dari ruang tamu, dijamunya aku dengan baik. Sepiring nasi dengan lauk seadaanya diberikan kepadaku. Tak lupa wedangnya. Nasi telor mata sapi inipun terasa nikmat. Kecap hitam yang dituangakan menambah manis kasihnya. Seringkih apapun dirinya saat ini, masih saja sempat meladeninku. Dan lihatlah, ada cemburu yang sedang menatapku di ujung pintu!

Suatu malam, ia terbangun dari tidurnya…. nampak ia sedang gelisah menunggu hari esok. Jika biasanya ia pergi berlayar pada subuh hari, dan kembali pulang di sore atau malam hari. Tidak untuk kali ini, ia harus merelakan tubuhnya terbaring di tempat tidur.

Dua ketukan terdengar jelas di telinga. Petugas keamanan memukulkan tiang listrik. Tanda malam menunjukan pukul dua. Aku tidak bisa tidur, tetapi mataku mengantuk.

Berceritalah,…

Aku memang menyukai saat-saat ini. Dimana ia memberikanku cerita sambil menyusap punggungku, diarsirnya kembali helaian rambutku… Ceritanya tak beraturan, sementara aku tak benar-benar mendengarkannya. Aku larut dalam kenikmatan belaiannya, lama sekali ini tak terjadi.

Melihat kenyataan yang ada, aku beruntung memilikinya. Di usianya yang senja, kami masih bisamelayari kehidupan bersama, menghempaskan deruan ombak dan menjejakkan kaki pada pusaran pasir. Ia sudah menjagaku dengan baik. Rasa sakit bisa saja datang tanpa di duga, lebih dari ini… hidup sudah banyak memberikan derita. Aku hanya berharap, sakitnya kan reda dengan sendirinya.

Kelopak pagi hampir tiba, dipandanganya ke luar jendela. Hatiku tetap bercahaya… melihatmu tertidur nyenyak dalam balutan kain.

Tombo teko loro lungo seperti yang ibumu bilang.

This entry was posted on 250859H Aug 2008 and is filed under Kikoku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

24 Responses to “”

  1. mata Says:

    ini cerita sedih buat siapa ko ?

  2. Full Netter Says:

    Salam Kenal Penuh Mesra,.

    Tentunya, Ini Bukan Sekedar Cerita..
    Ada Makna Yang TerPendar dari Cerita Ini.

    “SUKSES SELALU…

  3. herdianto Says:

    nyastra bgt Ko.

    Kayaknya lagi jatuh cinta neh?

  4. Anang Says:

    duh ak kelingan ibuku.hiks

  5. liongben Says:

    ini kisah anak rantau pulang ya Ko ???

  6. wi3nd Says:

    jadi kangen sama ibu:(

  7. syiddat Says:

    bahasanya indah… :)

  8. Niten Says:

    Semoga cepat di berikan kesembuhan…

  9. Ippen Says:

    eh ini cerita tentang ap ayah ko.. hehee..
    slam buat ibunya *hloh :P

    terus ‘Tombo teko loro lungo’ artinya apa yah kok? :D

  10. brillie Says:

    cerpen yach? nice…

  11. Endang Says:

    kalau ibu sedang sakit, jangan tinggal pergi dulu selain untuk kerja, ya Ko…..biar tak menyesal suatu saat nanti, ketika kerinduan Iko pada ibu mungkin tak bisa terobati….benar Ibu ya?

  12. maya Says:

    gag ngerti sebenernya ini cerita apa, tapi waktu bacanya kok ini mata jadi berkaca-kaca…..???

  13. Pyuriko Says:

    @ Mata : Untuk mamanya Iko…. :)

    @ Full Netter: Salam kenal kembali, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya…. :)

    @ Herdianto: Cinta sama mama… :)

    @ Anang: Salam untuk Ibunya mas Anang yaaa… :)

    @ Liongben: Begitulah kira-kira… :)

    @ Wi3nd: Sama Wi3nd,…. Iko juga selalu kangen sama mama di rumah… :)

    @ Langit: Terima kasih … :)

    @ Nitten: Amin… :)

    @ Ippen: Artinya, jika ada obat, sakit akan segera sembuh…. itu bahasa orang tua jaman dulu

    @ Brilie: Bukan ach… tapi CerIk (Cerita Iko)

    @ Mbak Endang: Iyaa mbak,… sudah ada si bontot yang jaga mama di rumah koq.

    @ Mbak Maya: Duh maaf mbak, jadi buat sedih. Mamaku di rumah lagi sakit…. padahal udah 2 minggu aku gak ketemu.

  14. imgar Says:

    mmm..

  15. SatoNa Says:

    Aku juga kangen sama elusan nya mama. hehe.. tapi dulu waktu kecil dielusnya bkn di punggung.. tapi di dahi gitu.. jadi makin cepet bobo gara” matanya dipaksa nutup.. :P

  16. DnMartin Says:

    Mama Iko sakit apa?
    Kok bisa 2 mggu ga ketemu?

  17. im fine Says:

    Bagus banget tulisannya!!
    Jadi terharu dn keingetan Ibu di kampung gw!!

  18. jaloee Says:

    mantep tulisan-nya jeng.. maju terus ku tunggu novel perdana-nya.. :D

    oh iya gmana persiapan ramadhan-nya.. awas jgn pura-pura sakit.. heuehuehue..

    and mohom maaf lahir batin yach jeng .. biar bersih-besih dulu neh sebelum berpuasa..

  19. treen Says:

    Semoga sakitnya menjadi penebus dosa. Dan semoga bisabersiap memasuki Ramadhan dengan gembira.

  20. indri Says:

    duh…iko,
    kok penuh metafora ….

    btw.. Ko, aku jg lagi kangen mama….
    meski kecap plus telor, rasanya paling nikmat sedunia.

    teriring doa, smoga lekas sembuh ya….

  21. pilar Says:

    weks… baru bisa berkunjung lagi.. kok cerita sedih yang di baca ….Pertama
    jeng iko… jeng iko… :D

  22. la mendol Says:

    Semoga ibunya cepat sembuh ya. Kalau aku ke Jakarta aku sempetin mampir, biar beliau nggak penasaran :)

  23. lady Says:

    moga ibunda segera sehat yaa…

  24. stey Says:

    ceritanya keren…

Leave a Reply