Sketsa Perjalanan,…

Berjalan entah kemana, semua dilakoni tanpa ada tujuan yang jelas. Mencari makna di seberang jalan, bermain cinta dengan pasangan, atau sekedar melepas nyeri dalam dada. Seandainya bisa berteriak, pasti kan teriak atas nyeri yang tersobek oleh siksa.

Selepas senja, para manusia berhamburan di jalan. Sesaat dirasa, tubuh kota ini baru saja terbangun dari mimpi tidurnya. Kembali hidup suasana di pinggir kota Jakarta. Sepi menghampiri pada tepian danau, tempat pelabuhan terakhir. Hingar binggar tak dirasakan lagi. Damai dan ketenangan milik kita bersama…

Sepertiga wajah rembulan berenang dalam kehangatan angin malam. Cahaya di atas air, berkilau dengan indahnya. Ada hasrat membelai, mencumbu perbatasan kaki danau. Ditemani sahabat setia, tertawa lepas menghirup segala kebahagian di dunia. Meski perang belum usia, kita tetap tertawa…

Sang hati sebagai kompas perjalanan, mengantar pada tempat yang jauh dari kehidupan manusia. Menenggelamkan masa lampau di dasar danau, membawanya hanya memperlambat langkah kaki saja. Membiarkan tenggelam sembari menyadari. Maka kepadanya aku berkata “kita mampu melewati ini semua”.

Dengan penuh gairah menyongsong kegelapan, kali ini membelah malam pada kios pak tua di pinggir jalan tol. Hanya sunyi yang melambai dan ditemani sahabat setia. Kembali kita tertawa lepas…

Waktu terus memburu, tak terasa sudah pada puncaknya. Pintu-pintu tertutup rapat, para manusia yang berhamburan selepas senja tadi, kini hanya tinggal bayangannya saja. Babak kehidupan baru kan dimulai beberapa jam dari sekarang. Sebongkah doa terbang ke muka langit, berharap esok membawa kebaikan.

Mari, kita pulang…

Pegang erat tanganku, tinggal aku satu-satunya yang bisa kau sentuh. Begitu juga dirimu, hanya engkau satu-satunya yang bisa kusentuh. Menikmati kelelakian dan keperempuan secara penuh. Selama kita masih bisa bersama, selamanya kan bersama. Tetapi selalu ada pembatas yang membedakan lelaki dan perempuan. Tidak mutlak kebebasan berisyarat…

Malam ini menjadi saksi, kita satu terpadu dalam pesona dua hati.  “Hal terindah adalah membahagiakan pasangan masing-masing”.  katamu… Menjadi perasa terhadap kebutuhan orang lain dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

Sabtu-Minggu; Minggu-Sabtu.
19-20 01.08

This entry was posted on 210855H Jan 2008 and is filed under CeRiK, Kikoku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

20 Responses to “Sketsa Perjalanan,…”

  1. jeng endang Says:

    memang tak ada gunanya membawa lampau pada kini dan nanti, tapi tetap jadikan cermin utk bertimbang-timbang.

    apapun rasa cinta yang ada, semua akan baik jika berada di tempat yg seharusnya.

    bener gak, Iko? duuuh……gakpapa deh kalo lbh baik disave, selama nyaman buat Iko…..

  2. agung Says:

    hanya bisa kasih kata “SELAMAT”
    itu untukmu :D

  3. escoret Says:

    […] agung Says:
    January 22nd, 2008 at 10:38 am fotonya
    hanya bisa kasih kata “SELAMAT”
    itu untukmu [….]

    Ikut ngucapin selamat juga..!!!!!

  4. isnuansa Says:

    saya belom pernah merasakan romantisnya tepian danau…

  5. tc-a Says:

    Tuing -tuing

  6. andi bagus Says:

    malam ini semakin larut tiada yang menemani..hanya dirimu yg akan menemani malam ini..hehehe..

  7. ichal Says:

    sebuah sketsa perjalanan yang membentang,, tak jauh lagi batas antara ramai dan sunyi…

    kepada dua cahaya antara terang dan gelap…

    oalahh apaan ni gw!!

    aduhhh romantisnya membunuhku!

  8. AngelNdutz Says:

    Apdet juga’ ne :D
    umm….jd pengen refreshing

  9. maya.ginandjar Says:

    duh..berbahagialah lelaki dan perempuan itu :)

  10. Tia Says:

    beautiful story….:) jadi penasaran itu beneran atau ga…ah kapan2 tanya langsung ke YM mu :P

  11. edratna Says:

    “Hal terindah adalah membahagiakan pasangan masing-masing”. katamu… Menjadi perasa terhadap kebutuhan orang lain dan mendengarkan apa yang mereka katakan….

    Betul Iko, kalau kita menyayangi seseorang, apapun yang kita lakukan, tujuannya adalah ingin membahagiakannya….

  12. nez Says:

    duh jd kangen sama suasana di kampung halaman…

  13. jaloee Says:

    suitttt… romantis bangeut sampe mau pegangan-pegangan gitu..
    mau donk..hahaha..

    ceritanya aku ini hiatus.. tapi kalau malem masih suka gentayangan..
    hikssss..

  14. daniel! Says:

    danaunya dimana sih?? pengen ngintip.. :))

  15. meiy Says:

    romantis euy! ngiridotcom.

    tulisan Iko tambah keren aja ya, aku lama gak kesini, mang jarang2 BW sih ya…:)

  16. Pyuriko Says:

    @ All: Makasih ^_^

    @ Agung & Escoret: Selamat atas apa yaaa???

  17. gelly Says:

    *.¸¸.·´¯`·.¸¸.☆♡ romantis bngttt ^^♡^^

    ahh aahh ahhh cuit2…

  18. soeltra Says:

    danau???
    such a sweet place i always sat down there, waiting the sunset or rain falls and after that seeing the rainbow.
    baguuuuuuuuuusssss!!!

    *jd pengen ke danau kampus dulu, t4 ku mengajar tangan2 kecil yg lucu selepas subuh dan sebelum matari terbenam.huhuhu….rinduuu… (gak jls deh!)

  19. Dew Says:

    Suka danau juga, tapi lebih suka air terjun. :)

  20. FREE7 Says:

    aku dah usaha keras memahami postingan-mu ini pengen komen ,tp nggak ngerti /nyambung juga Iko…
    kasian deh gw….:)

Leave a Reply